Fenomena kesurupan atau kerasukan telah lama menjadi bagian dari cerita rakyat dan budaya mistis di Indonesia. Secara tradisional, kondisi ketika seseorang bertindak di luar kendali dan berbicara dengan suara asing ini sering kali dikaitkan dengan masuknya makhluk halus ke dalam tubuh manusia. Pandangan ini pun melahirkan penanganan spiritual seperti ritual ruqyah atau bantuan ahli supranatural.
Namun, perkembangan ilmu kedokteran dan psikologi modern memberikan penjelasan yang rasional mengenai fenomena ini. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dan International Classification of Diseases (ICD-11) terbitan WHO, kondisi ini dikenal sebagai Trance and Possession Disorder atau bagian dari gangguan disosiatif.
Membedah Kesurupan dari Sudut Pandang Psikologi dan Medis
Secara psikologis, kesurupan merupakan respons otomatis dari pikiran bawah sadar ketika seseorang mengalami tekanan batin, stres berat, atau trauma ekstrim yang menumpuk tanpa saluran pelepasan yang sehat. Ketika ambang batas toleransi emosional terlampaui, otak memicu mekanisme pertahanan diri dalam bentuk disosiasi—sebuah kondisi di mana kesadaran seseorang terpisah dari realitas sekitarnya.
“Kesurupan dalam konteks sains sering kali merupakan manifestasi dari gangguan disosiatif atau Mass Psychogenic Illness (MPI) pada kasus kesurupan massal, di mana kecemasan emosional menular secara psikogenik dalam suatu kelompok.”
Ketika terjadi kesurupan massal di sekolah atau tempat kerja, fenomena ini umumnya dipicu oleh ketegangan kolektif, kelelahan fisik, dan sugesti lingkungan yang kuat.
Cara Belajar Coding di Smartphone: 2 Aplikasi ini wajib ada di Hp kamu
Memulai perjalanan di dunia pemrograman (coding) sering kali dibayangi stereotip bahwa seorang developer wa...
Cara Menyadarkan Orang Kesurupan Secara Logis dan Efektif
Untuk menyadarkan seseorang yang mengalami kondisi disosiatif atau kesurupan, kita tidak selalu harus mengandalkan ritual khusus. Pendekatan berbasis rangsangan saraf (neurological stimuli) dan teknik grounding terbukti sangat efektif mengembalikan kesadaran pasien ke alam nyata.
Berikut adalah beberapa panduan pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan:
1. Pemberian Rangsangan Nyeri pada Titik Saraf (Noxious Stimuli)
Dalam penanganan medis, pemberian stimulasi nyeri aman digunakan untuk menguji level kesadaran pasien. Tekanan pada titik trigger point seperti otot trapesium (antara leher dan pundak) atau area dada dapat menginterupsi kondisi trance.
- Cara Melakukan: Berikan tekanan yang mantap pada area otot trapesium di atas pundak. Sambil menekan, panggil nama korban secara tegas dan berulang.
- Dampak Medis: Rangsangan rasa sakit memicu respons refleks dari otak untuk kembali ke keadaan sadar.
- Catatan Etika: Harap perhatikan norma kesopanan dan hindari area sensitif tubuh, terutama jika menolong lawan jenis.
2. Penekanan Titik Akupresur GV26 (Renzhong)
Penekanan pada area bawah telinga sangat risik karena keberadaan arteri karotis yang mengalirkan darah ke otak. Sebagai gantinya, gunakan titik akupresur GV26 (Renzhong) yang terletak di celah antara bibir atas dan bawah hidung.
- Cara Melakukan: Tekan titik Renzhong menggunakan ibu jari dengan tekanan sedang selama beberapa detik sambil memanggil nama korban.
- Dampak Medis: Titik ini terbukti secara medis mampu menstimulasi sistem saraf pusat, meningkatkan respon sistem pernapasan, dan sering digunakan dalam penanganan pingsan atau penurunan kesadaran.
3. Teknik Grounding Sensori (Garam, Cabai, atau Bebauan Tajam)
Metode tradisional menggunakan cabai atau bau-bauan menyengat sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang kuat. Teknik ini dikenal dalam psikologi sebagai sensory grounding.
- Cara Melakukan: Dekatkan bebauan yang sangat kuat seperti minyak kayu putih, amonia, atau usapkan sedikit rasa pedas cabai ke indra pengecap/penciuman korban.
- Dampak Medis: Kejutan sensori yang kuat (bau menyengat atau rasa pedas) memicu sistem saraf sensorik secara mendadak, menembus blokade disosiatif otak, dan memaksa kesadaran korban kembali ke kondisi nyata.
Langkah Pendampingan Pasca-Sadar
Setelah korban mulai menunjukkan tanda-tanda sadar, segera amankan lingkungan sekitarnya:
- Jauhkan dari Kerumunan: Pindahkan korban ke tempat yang tenang dan memiliki sirkulasi udara baik untuk meredakan kecemasan.
- Beri Minum Air Putih: Bantu menenangkan sistem saraf parasimpatis.
- Jangan Dihakimi: Hindari menakut-nakuti korban dengan cerita mistis yang berlebihan, karena dapat memicu kecemasan ulang.
Memahami kesurupan secara ilmiah membantu kita mengambil tindakan medis yang tepat, tenang, dan terukur tanpa terjebak dalam kepanikan irasional.
Komentar